Minggu, 21 September 2014

Eratnya Ikatan Kekeluargaan Itu

Eratnya ikatan kekeluargaan itu memang amatlah penting dalam menjaga hubungan antar keluarga agar tetap solid atau kokoh dan  berkesinambungan. Bahkan tidak saja hubungan antar keluarga yang harus dijaga, tetapi juga hubungan antar tetangga dan antar sesama umatNya, baik dari mereka yang hidup dalam naungan kepercayaan atau agama yang sepaham atau yang tidak sepaham. Sepaham di sini diartikan menganut agama yang sama. Karena di mata Sang Pencipta kita adalah sama, tidak ada perbedaan si kaya dan si miskin, pun tidak juga dalam menganut agama Muslim atau Non-Muslim. Di muka bumi ciptaanNya ini kita semua sebenarnya bersaudara. Hanya mungkin persepsi setiap orang terkadang berbeda dalam menafsirkannya.
Adikku (pr. berjilbab ungu) dan adik lelaki baju batik dan kel.

Kamis, 11 September 2014

Kapan Lagi ke Festival Kuliner Serpong 2014?


http://www.malserpong.com



Proloog
Sengaja aku beri judul postingan ini "Kapan Lagi ke Festival Kuliner Serpong 2014?" Kenapa? Karena aku punya alasan kuat sebagai berikut:
  1. undangan Mak Haya Aliya Zaki, Mantan Ketua Panitya Serikandi Blogger 2014, Komunitas Kumpulan Emak2 Blogger untuk menghadiri  Festival Kuliner, pada tanggal 23 Agustus 2014 tentu saja aku terima sebagai suatu surprise dan tak akan aku sia-siakan; Undangannya GRATIS!
  2.  aku adalah blogger renta, 75 tahun, yang pastinya jarang sekali, bahkan tidak pernah mencuci mata di Summarecon Mal Serpong yang megah ini;
  3. kalau ada pepatah yang mengatakan: Sambil Menyelam Minum Air -- pepatah itu berlaku bagiku pada tanggal 23 Agustus saja, karena disamping bisa menyaksikan Festival Kuliner Serpong 2014, ada bonus untuk pengunjung (blogger): bebas makan apa saja senilai Rp. 100,000 (Rupiah: Seratus ribu) di area Festival Kuliner Serpong 2014 dan voucher yang bisa ditukarkan dengan barang/item/makanan di Lantai 2 Gedung Summarecon Digital Center. (SDC)
  4.  plus gudibag yang berisi beragam items: majalah Wonderful Life, terbitan Juli-September 2014, brochure SDC Serpong -- Pusat IT & Gadget Pertama di Gading Serpong, Kartu Gesek ala ATM senilai seratus ribu, voucher belanja barang/makan/item apa saja, senilai Rp.50,000, satu box Toraja Coffee, gantungan kunci Kartu AS Play Mania, 2 (dua) botol mungil minuman segar bervitamin.
  5. ada rekan blogger yang baik hati untuk berangkat bareng, Mak S.a.Hanniffy ."Terima kasih ya sudah menemani Bunda melihat dari dekat Festival Kuliner Serpong 2014" yang baru kali ini Bunda kunjungi. 

Rabu, 10 September 2014

Sebuah Kutipan yang Bermanfaat.

Sekali-sekali susunan buku di rak memang perlu dibersihkan. Dan ketika aku menurunkan buku-buku, mataku tertuju pada sebuah buku yang menarik untuk di 'betot'. Ternyata buku itu perihal yang lagi hangat-hangatnya menjadi topik Agent of Change. Mudah-mudahan tulisan ini bisa menambah pengetahuan juga. Bahan aku ambil dari sebuah booklet yang dikeluarkan oleh Deputi Bidang Perlindungan Anak Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan bersama Unicef. Kutipan dari booklet tersebut sangat bermanfaat untuk para ibu-ibu yang memiliki anak-anak usia dini atau bahkan ABG, antara lain sebagai berikut:

Pelatihan Menulis, Republika Book Fiesta 2014.

Walaupun sudah berlalu beberapa bulan, bagiku tidak apa-apa. Aku ingin memuatnya di blog ini untuk kenangan bersama Mak Haya Aliya Zaki dan Jeng Sri.  Apalagi kalau aku ingat betapa aku penasaran untuk ikut Pelatihan Menulis ini. Untuk bisa hadir tepat waktu aku berusaha berangkat dari rumah (Pamulang) jam 08.00 dengan ojek ke tempat 'meeting point' dengan seorang teman yang berbaik hati untuk pergi bareng. Alhamdulillah aku tidak mengecewakan penjemput, hehe... Rekan blogger yang baik hati ini S.a.Hanniffy (pemilik blog JengSri.com) sampai di tempat aku menunggu beberapa menit setelah aku sampai. Jadi tidak perlu menunggu lama, kan? "Makasih ya Jeng Sri sudah menjemput Bunda, hehe..." Karena datang terlalu awal, jadilah kami ngopi-ngopi dulu di resto terdekat. Nyerusup yang anget-anget. Sabtu, 21 Juni yang menyenangkan.

Info yang amat bermanfaat ini aku dapatkan dari Mak Haya Aliya Zaki. Program yang aku ikuti tentang Pelatihan Menulis, diadakan di Gedung Republika, Jalan Warung Buncit Raya 37. Pasar Minggu. 

Sabtu, 06 September 2014

Arti Sebuah Kerukunan.

Source: herman-salim.blogspot.com


Sudah beberapa hari ini aku  membiarkan blog-ku kosong melompong.  Bukan karena aku malas, tapi semata karena aku sedang tidak  mood untuk bikin postingan, Ide memang pating sliwer tapi aku lagi ingin nyantai dulu. Karenanya ide itu aku biarkan lewat begitu saja. Tapi sampai kapan? Hanya aku pastinya yang bisa menjawabnya. My latest postingan pada bulan Juli, tanggal 7 hehe...kalo bayi mah sedang montok-montoknya tuh. Iya, kan? Umurnya sudah dua bulan, dan dua hari lagi ultahnya. Aduuuh, harus aktif, harus aktif, harus aktif. Jangan malas, usir itu bad mood!!

Senin, 07 Juli 2014

Yes, I am Indonesian!



Tahun 1983 aku dikirim oleh kantorku untuk bertugas di sebuah Negara yang baru saja lepas dari kancah peperangan, Hanoi, Vietnam Utara. Negara Vietnam Utara yang baru saja bebas dari peperangannya melawan Vietnam Selatan. Banyak expatriate yang bertugas di sana menyangka bahwa aku ini adalah warga Vietnam. Kulitku memang sama dengan mereka. Tapi tidak kebangsaanku. Aku warga Negara Indonesia. Aku orang Indonesia tulen.
Sumber Gbr.: merdeka.com
Aku bangga menjadi orang Indonesia. Betapa tidak. Karena dalam setiap malam di bulan-bulan pertama aku menunaikan tugasku di Hanoi, hampir tidak ada jeda untuk menghadiri ramah tamah yang diadakan, baik oleh rekan-rekan kantorku di Hanoi, atau oleh Kedutaan Besar Hanoi. Setiap mereka bertanya tentang kebangsaanku, maka dengan bangga aku memperkenalkan diriku. “I am Indonesian.”

Ternyata sebagai orang Indonesia yang memiliki keramahan tamahan yang sudah terkenal itu, menyebabkan rekan Vietnamese sangat percaya kepadaku. Aku sukses  membina pertemanan dengan rekan-rekan kantor yang berkebangsaan Vietnam. Kadang dalam canda mereka mengatakan tidak percaya aku orang Indonesia. Mereka begitu yakin aku ini orang Vietnam yang sudah lama tinggal di Indonesia. O, My God, mana mungkin? Aku ini orang Indonesia. Tulen koq dibilang orang Vietnam. Piye toh.

Keakrabanku dengan staff berkebangsaan Vietnam membuat iri expatriate lain yang kelihatannya agak sulit untuk bisa akrab dengan mereka. Jelaslah sulit bagi mereka. Mereka memiliki kebiasan-kebiasaan Barat yang sedikit sekali mengedepankan keramah-tamahan. Tidak seperti kita bangsa Indonesia. Expatriate saja bisa koq kepincut untuk tinggal di Indonesia, kalau bisa selamanya karena ‘rayuan pulau kepala.’ hehe..

Ketika rekan-rekan Vietnamese ini mengajak aku berkeliling kota Hanoi kala liburan, mereka membanggakan kelima danau yang indah di Hanoi. Memang kota Hanoi seolah dikelilingi oleh lima buah danau yang indah. Tapi keindahan itu bagiku tidak bisa mengalahkan keindahan alam yang dimiliki Indonesia, dengan berbagai keunikan yang dimiliki setiap pulau dengan pantai-pantai laut yang indah, katakanlah, yang sudah aku jajagi betapa keindahan pantai laut kota Belitung dengan bebatuan alam raksasa di sepanjang pantainya yang berpasir putih bersih. Pulau Pramuka di gugusan pulau seribu dengan keindahan taman bawah lautnya. Pulau Bali dengan segala keindahan seni tari dan kerajinan tangannya. Pokoknya aku bangga tinggal di Indonesia. Aku tidak memimpikan untuk tinggal berlama-lama di Negara lain, seperti Inggris, dimana menantuku tinggal. 
Indonesia dengan kekayaan alam dan kekayaan budaya serta ragam kekayaan rempah-rempah menjadi titik utama bagi warga asing untuk bisa menjejakkan langkah mereka di bumi Indonesia. Tidak jarang keindahan pulau Bali menyebabkan mereka (turis asing) merasa puas dengan hanya melihat keindahan pulau Bali. Mereka menyangka itulah Indonesia. Ketika aku di Hanoi mereka menanyakan apakah Indonesia itu sama dengan pulau Bali?. Jawaban yang aku berikan tentu saja dengan gelengan kepala dan dengan gamblang aku jelaskan bahwa Bali adalah bagian yang teramat kecil saja dari Indonesia. 

Ketika  rekan Vietnamese membanggakan pahlawan mereka Ho Chi Minh, yang telah menyatukan Vietnam Utara dan Vietnam Selatan dari penjajaha, dengan bangga akupun membanggakan banyak nama-nama pahlawan Indonesia yang berjuang membela bangsa dari penjajahan, seperti Panglima Jenderal Sudirman. Demikian bangganya mereka memiliki seorang pahlawan seperti Ho Chi Min, sehingga jasadnya tidak mereka kuburkan, tetapi diawetkan dan disemayamkan di sebuah tempat khusus, di sebuah musium, lengkap dengan pakaian kebesaran dengan serentetan medali-medali yang dimiliki. Sayang tidak boleh ada yang membawa kamera ketika masuk ke dalam musium. Bukan aku saja yang harus berdiri di antrian yang panjang untuk dapat menyaksikan pahlawan Vietnam ini, tetapi warga setempatpun antri dengan tertib untuk melihat pahlawan mereka. Di Indonesia kita mengenalnya dengan sebutan Paman Ho (panggilan akrabyang diberikan oleh (alm) Presiden R.I. Pertama, Soekarno). 

Di Hanoi, aku adalah seorang expatriate hehe...keren juga ya aku jadi exptatriate. Kapan lagi, kalau tidak dikirim oleh kantor, mana mungkin aku berlanglang-buana sampai di Vietnam. Mereka senang ber-narsis-ria bersamaku, begitu juga anak-anak sekolah ketika kami jalan-jalan. Mereka (anak-anak sekolah) itu langsung meneriakkan kata: "Are you Indonesian?" Aku mengangguk dan mengatakan: "Yes, I am Indonesian!" 

 
Expatriate dari Indonesia, hehehe...



Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan: Aku dan Indonesia.

Minggu, 06 Juli 2014

Pentingnya Mobile Broadband



Sebagai member dari KEB (Kumpulan Emak2 Blogger), untuk kesekian kalinya aku mendapat kesempatan menghadiri sebuah Seminar. Tanpa keterlibatanku sebagai member KEB, mana mungkin kesempatan ini akan datang menghampiriku. Terima kasih, KEB, Mak Founder Mira Sahid, Mak Co-Founder Indah Julianti Sibarani. Tulisan ini aku buat sebagai postingan untuk mengingatkanku saja tentang Seminar yang menarik ini.

Kali ini aku hadir dalam sebuah Seminar yang diadakan oleh Qualcomm Indonesia, tentunya bersama beberapa rekan dari KEB. Secara global berikut paparanku tentang kehadiranku di Seminar tersebut.