Kamis, 30 Juni 2011
KEISTIMEWAAN BULAN RAJAB (II)
Rabu, 29 Juni 2011
KEISTIMEWAAN BULAN RAJAB (I)
Selasa, 28 Juni 2011
LOMBA DUNIA MAYA -- MANISNYA PERSAHABATAN.

Aku persembahkan kisah nyata Dunia Maya ini untuk seorang pakar Internet Marketing yang paling kondang. Siapa yang gak kenal Internet Marketer nomor wahid di dunia Bisnis Online: JokoSusilo, Pengelola Formulabisnis. Bagiku Formulabis telah secara tidak langsung mengantarkan aku menjadi seorang yang percaya diri dan mempunyai prinsip positif thinking.
Rahasia Tersembunyi Metode Mencari Uang
di Internet Akhirnya Diungkap...

- Terbuka untuk umum, kecuali anggota FLPHK
- Peserta harus punya blog atau notes FB
- Naskah non fiksi/kisah nyata
- Naskah sedang tidak diikutsertakan lomba
- Panjang naskah bebas
- Bahasa EYD, boleh juga menggunakan bahasa gaul, syarat ada Notefoot
- Naskah harus sesuai dengan tema
- Naskah harus asli karya sendiri. Bukan terjemahan, saduran, atau nyomot ide orang lain
- Keputusan dewan juri tidak bisa diganggu gugat
- Setiap peserta wajib menaruh link naskah di kotak kementar yang tersedia
- Tuliskan ”Lomba Dunia Maya” kemudian judul naskah. Contoh:(Lomba Dunia Maya-Judul)
- Naskah ditulis di blog/notes masing2 peserta dilampiri link materi lomba
- Naskah yang sudah didaftarkan tidak boleh diedit
- Setiap peserta wajib menggunakan satu akun. FB, MP, BS, KOMPASIANA, DLL
- Naskah diposting paling lambat 9 Juli 2011.
- Pemenang 1: uang tunai $HK 300 (tiga ratus dollar HongKong) + cindera mata dari HK, buku “Surat Berdarah Untuk Persiden” sumbangan dari FLPHK (Forum Lingkar Pena HongKong)
- Pemenang 2: uang tunai $HK 200 (dua ratus dollar HongKong) + cindera mata dari HK + buku “Ketika Tuhan Jatuh Cinta”
- Pemenang 3: uang tunai $HK 100 (seratus dollar HongKong) + cindera mata dari HK
- Pemenang 1, 2, 3, masing2 akan mendapatkan satu buku PDR (Penjajah Di Rumahku” sumbangan dari Ukhti Susie Utomo sang management PDR.
- Tersedia satu buku “TKW Menulis” yang menceritakan perjuangan penulis (seorang TKW) dalam mengejar impiannya menjadi seorang penulis.
- kompasiana: Klik Sini
- blogspot: Di sini
- multiply: Sana
- FB: Di sini
- Khusus untuk FB peserta diharapkan mentag tulisannya ke Aulia Zahro
Minggu, 19 Juni 2011
Senyum Adalah Sebuah Ibadah.

Senyum adalah sebuah ibadah. Kemanapun kau pergi jangan kau tegakkan kepalamu dan jangan kau angkat dagumu. Rengkuhlah orang-orang yang kau cintai selagi kau bisa. Berbagilah selagi mereka masih ada. Karena setelah mereka tiada, kau tidak akan lagi mampu menunjukkan kasih sayangmu. Kau tidak mungkin lagi untuk berbagi. Kau tidak lagi bisa menunjukkan senyummu. Batu-batu nisan yang kau buat berdiri kokoh tidak membuatmu bahagia. Kau hanya bisa bertumpu diatasnya, menebar bunga dan menitikkan air mata penyesalanmu.
Note: Tulisan ini diikut-sertakan dalam Give Away "Angka 100"
Rabu, 15 Juni 2011
MODEL BUSANA MUSLIM SEMAKIN OKE.

Sudah kubilang dipostinganku tentang ANGKA bahwa Pakde Cholik ini memang bener-bener pinter je cari ide untuk memotivasi kita-kita nih untuk bikin postingan demi postingan. Gak masalah kalo postingan itu akhirnya harus terdesak dan terpental oleh postingan-postingan dari mereka yang jempol and yahud. Postingan mereka emang greget dan oke punya.
Saya gak bosan nih ya Pakde untuk mencoba, mencoba dan mencoba lagi.
Berbicara tentang model busana muslim pastilah tidak lepas dari pernak-perniknya. Beragam model jilbab serta asesoris-nya yang menjadi tautan utama. (hehehehe…..persis kayak nge-link aja pake tautan segala). Sekarang ini agak sulit kita menemukan model wanita, model apa saja, baik itu ABG alias anak baru gede, wanita dewasa bahkan nenek-nenek tanpa mengenakan jilbab. Tentu maksudku menjumpai mereka ketika kita berada ditempat keramaian, seperti di Mall-Mall, atau ditempat keramaian lainnya. Mereka seakan berlomba untuk memakai busana muslim plus jilbabnya dengan berbagai model. Sebabnya pun pasti beragam – ada yang memang sudah terpanggil untuk berjilbab, ada pula yang ingin kelihatan modis dengan berjilbab. Pokoknya berjilbab mempunyai arti “plus” dalam penampilan mereka. Soal model busana menjadi keputusan nomor kesekian. Mereka yang mahasiswa mengenakan model celana blue-jeans ketat, legging ataupun model celana panjang apa pun sudah merasa “pede” dengan tambahan blus yang jauh dari model busana muslim. Yang penting mereka mengenakan tutup kepala dengan beragam model jilbab yang menawan.
Aku sendiri ketika memutuskan memakai jilbab begitu merasakan adanya suatu aliran hangat yang menyengat dada ini. Model yang kupilih pun yang sederhana (tapi memikat, hehehehe….). Begitu adem anyem rasanya. Model jilbab ini ditambah dengan model busana muslim yang aku kenakan menyebabkan aku mendapat sebutan “Bu Haji” dan lebih hebat lagi ketika memimpin suatu acara di Mesjid dekat rumahku tak pelak lagi sebutan “Ustadzah” pun menerpa telingaku. Begitu indahnya menyapu daun telinga dan sempat menebarkan angan kapankah aku menjadi seorang Ustadzah dan bu Haji yang sebenarnya. Karena sampai sekarang ketika usia ini kureguk ditahun ke-72 aku tetap saja masih seperti dulu tanpa embel-embel kedua sebutan itu.
Memilih model busana plus model jilbab yang aku sukai tidaklah sulit. Kenapa? Karena aku selalu berkonsultasi dengan anak perempuanku yang mengerti tentang model mana yang cocok untuk diriku. Alhasil aku selalu tampil modis lho, hehehehe…..itu kata mereka yang menilai penampilan aku. Nah coba aja deh lihat model iklan ASKAT-nya Pakde yang satu ini, apa sudah layakkah dengan model busana plus jilbabnya?
Tulisan ini diikut-sertakan dalam penulisan ASKAT dengan modal satu kata MODEL.
Selasa, 14 Juni 2011
Berbagi Itu Memang Indah.
Jika Anda Ingin Menulis Artikel, Tuliskan Saja!
Senin, 13 Juni 2011 aku mengajak cucuku untuk ke Mall terdekat diwilayah tempat tinggalku. Tujuan utama pasti Arena Main murah meriah. Aku ditemani tentunya oleh seorang pengasuh cucuku. Maksudnya supaya ada yang menjaga cucuku sementara akupun ingin pula memeras keringat untuk bermain basket di Arena Main itu. Aku jadi addicted bermain basket disini. Kenapa? Karena letak keranjang basket tidak terlalu tinggi. Cocoklah untuk usiaku yang sudah diatas tujuhpuluhan. Cukup untuk sekedar menguras keringat qiqiqiqiqiii….. Puluhan coin telah kuhabiskan. Selama di Arena Main ini aku perhatikan ada tiga orang anak lelaki, usianya kira-kira 10 atau 12 tahun yang selalu mengikuti langkahku kemana saja aku berpindah. Semula aku sama sekali tidak merasa terusik oleh ulah mereka. Mereka ikut “nimbrung” melempar bola basket – lagi, lagi dan lagi, sehingga aktivitasku agak terganggu. Dengan keringat yang sudah mulai mengucur diseputar wajahku akupun menoleh kearah mereka. Ya ampuunnn….wajah-wajah itu penuh harap. Tapi ketika aku tanyakan kepada salah satu dari mereka: “Mau main?”. Dia menggeleng, tapi sorot mata itu aku hafal benar. Sorot penuh keinginan. Aku lihat mereka tanpa alas kaki memasuki Mall tsb., dan pastinya mereka adalah anak-anak penduduk disekitar pinggiran Pamulang. Memang Mall ini adalah Mall yang tidak memberikan kriteria apapun untuk pengunjungnya. Aku melas melihat mereka. Aku berhenti bermain basket, berjalan kearah loket dan membeli lagi sejumlah coin. Khusus untuk mereka. Aku berpindah kepermainan tombol tarik bola. Tanpa banyak bertanya aku berikan beberapa coin kepada mereka masing-masing. “Ayooo…. sekarang kamu main ya buat ibu, kalo dapet nanti tiketnya buat kamu”. Mereka yang semula sungkan jadi berbinar saling berebut menerima coin dari tanganku. Aku berdiri disamping mereka. Mereka bermain, menarik tombol, melepaskannya, rrrreeeetttt………….……….beeeeng………masuklah bola ke lubang dengan bonus 60 tiket. Serentak mereka bertiga berseru: “Yyyeesss!” (wah, gaul juga nih anak-anak walau tanpa alas kaki, hehehehehe…..). Ternyata nasib mujur dipihak mereka. Ber-ulang kali mereka berhasil membidik bola masuk ke lubang bonus. “Sekarang kalian tukarkan tiket-tiket ini dengan hadiah apa aja sesuai jumlah tiket ya dan kalian harus berbagi. Janji?”, bujukku.
Mereka mengangguk. “Makasih ya bu, makasiiiihhh………”, sorot mata mereka begitu bahagia dan penuh keceriaan. Aku ikut larut dalam bahagia. Sayang tidak terpikir olehku untuk mengabadikan mereka dengan camera handphone-ku. Ah, indahnya berbagi.
Rabu, 08 Juni 2011
Angka Yang Kudapat Melebihi Asa-ku
Tahun 1967 aku mengajukan lamaran untuk bekerja di sebuah Organisasi Internasional. Ya, betul ANGKA itu memang 1967 dan Pak Dhe Sang Penyemangat kita semua untuk menulis pasti belum lahir di ANGKA tahun tersebut. Hal per-tama-tama yang ada dalam benakku waktu itu adalah ANGKA. Berapa kira-kira ANGKA yang harus aku ajukan ke Pimpinan Perusahaan itu andaikan aku sukses dalam wawancara. Banyak ANGKA yang berseliweran dalam benak ini. Aku ingin segera mengajukan ANGKA 5 dengan tiga ANGKA nol. Tahun 1967 gaji seorang pemula dengan ANGKA Rp.5,000 sudah termasuk besar lho. Setelah hati dan otak berkompromi dengan baik, baru aku bersuara dengan tegas bahwa gaji yang aku minta adalah ANGKA tersebut.
Semula hatiku ciut ketika aku lihat reaksi dari Pimpinan Perusahaan melihat ANGKA yang aku ajukan: “This is it”, serunya.
Aku menggangguk dengan hati dag-dig-dug. Terlalu besarkah ANGKA yang aku ajukan? Atau sebaliknya terlalu kecilkah ANGKA itu? Mudah-mudahan yang terakhirlah harapanku. Keserakahan mulai menggoda, belum juga dapat pekerjaan sudah menerawang ingin gaji dengan ANGKA yang besar. Sisi baikku menenangkan: “Ah, sudahlah ANGKA itu belakangan kau pikirkan. Yang penting dapatkan dulu pekerjaan itu.”