
Begitu membaca judul pertanyaann "Kenapa Sih Harus Balikkan Sama Mantan? yang jadi tema di hari ke-lima Blogger Bicara Cinta-nya Blogdetik, dalam hati aku segera kasih komentar: Iiiccchh....ngapain juga sih balikkan sama mantan? Mantan pacar? Tak-u-u ya? Lho kenapa, sisi baikku bertanya penasaran, akhirnya akupun terpaksa bikin tulisan seperti dibawah ini. Yuk silahkan disimak, hehehehehe....
Dulu, waktu aku masih muda, lagi mengkel-mengkel-nya (mangga kallleeee..), tahun 1959/1960 aku punya pacar. Orangnya ganteng, tinggi, putih bersih, berhidung mancung. Disamping dia baik hati, juga gak pelit. Kalau dia ngajak aku jalan-jalan, t'rus aku minta agar adikku juga ikutan, dia sama sekali gak keberatan. Padahal aku cuma ngetes doank! Gak beneran pengen adikku ikutan jalan-jalan. Soalnya adikku itu jauh lebih cantik dari aku, dan rambutnya..........aduhai panjang hingga menjuntai di punggungnya sampai ke lekukan lutut bagian belakang. Siapa pun yang punya pacar ganteng dan punya adik cantik, pastilah ada terselip rasa was-was dihati - siapa tahu mereka saling jatuh hati. Hihihi...jemburu buta! Tinggal aku yang bakal gigit jari. Tapi alhamdulillah itu tidak terjadi pada diriku. Rasa was-was-ku hilang tanpa bekas karena dia (katanya) mencintai aku dengan tulus.
Seiring berjalannya waktu, pacaran pun berjalan hingga bilangan tahun. Tapi ada yang mengganjal dihati. Yang sama sekali tidak membuat hatiku semakin mantap untuk memilihnya sebagai pendlampingku. Menjadikannya sebagai Imam dalam rumah tanggaku nanti. Kenapa? Ini dia alasanku: Setiap kali kami makan di restoran, sambil menunggu bill diantarkan kemeja -- dia selalu pura-pura gak ngeh alias cuek. Kalau dia berdiam diri, duduk manis, mungkin aku masih bisa mengerti dia. Mungkin dia sedang tidak punya uang lebih untuk mentraktir aku. Oke, itu aku maafkan dengan amat senang. Gak masalah. Tapi ini? Ya ampun.............dia memasukkan telunjuk kanannya ke dalam mulut, mengorek-ngorek sisa-sisa makanan yang masih nyelip di antara gigi-gigi-nya. Hiiii.....jijay gak seh? Nah, waktu dua tahun sudah cukup untuk bersama dia. Alhasil kami putus-tus-tus. Jangankan untuk suami, untuk jadi pacar aja aku gak mau deh. Sekali lagi nih "tak -u-u ya!".
Setelah sekian waktu kami putus hubungan. Tanpa kabar tanpa berita. Aku juga tidak pernah lagi mikirin dia. Bahkan aku sudah punya pacar baru yang lebih memiliki galantry dan sikapnya sangat bikin hatiku terpikat erat hingga kupilihlah dia jadi ayah dari anak-anakku. Ooops...maaf koq jadi ngelantur ya. Oke aku teruskan -- Sepucuk surat aku terima dari dia dan mengajak aku kembali merajut kasih. Waktu itu memang belum ada tuh handphone, jadi surat-menyurat pegang peranan penting untuk suatu komunikasi. Ajakannya dengan segala janjij-janji untuk memperbaiki apa yang tidak baik pada dirinya. Dia akan merubah apa yang tidak aku sukai, bla...bla...bla.... Dia akan melamarku. Katanya dia tidak bisa hidup tanpa aku. Dasar! Pasti rayuan gombal. Buktinya sampai saat aku membuat tulisan ini dia masih hidup, hahahaha.....daan sudah tiga kali menikah. Anaknya hanya seorang.
Untunglah aku tetap bersikeras "no way" untuk balikkan dengan dia. Aku tidak bisa menerima dia untuk balikkan. Bukan karena aku gak cinta, tapi karena aku gak tahan dengan kebiasaan buruknya itu. Walaupun ada pepatah yang mengatakan "terimalah pasanganmu apa adanya". Tetap aja aku gak bisa. Oop, ralat, bukan gak bisa, tapi gak mau. Titik. Aku balas suratnya dengan manis tanpa menyakiti hatinya. Aku bilang aku dijodohkan oleh orang tuaku. Lho? Bohong buat kebaikan kan gak apa-apa. Sah-sah aja koq. Apalagi aku yakin kalau aku salah mengambil keputusan, maka akan menyebabkan dampak yang tidak baik untuk kehidupan kami kedepan. Jadi lebih baik, putus sebelum terlanjur ke jenjang pernikahan.
Tapi jangan menilai aku orang yang kejam dulu donk? Karena aku juga akan memberikan jawaban atas pertanyaan "Kenapa Sih Harus Balikkan Sama Mantan? Tapi kalau mantan suami? Apalagi kita sudah beranak-pinak kenapa gak? Why not, bahasa kerennya. Tentu saja masalah balikkan bisa menjadi topik yang harus dipertimbangkan. Setelah kita rasakan arti anak-anak kehilangan figure ayah, arti sebuah rumah tangga tanpa Imam. Sedangkan dasar cinta masih melekat dihati kita. Yah tentu saja pertanyaan "Kenapa Sih Harus Balikkan Sama Mantan? Ya, haruslah, lha cinta yang jadi landasan masih kuat dan mungkin perceraian yang terjadi karena emosi sesaat saja. Tapi, ada tetapinya nih, catet. kalo perceraian karena adanya pihak ketiga, biarpun anak-anakku segudang, gak bakalan aku mau balikkan lagi! Gak ada itu istilah balikkan karena aku tidak mau memiliki separuh hatinya, hehehehehe.....jadi mirip-mirip judul lagunya Anang Hermansyah Separuh Jiwaku Pergi. Nah, kalau ini yang menjadi alasan, maka tidak ada jawaban yang paling pas untuk pertanyaan "Kenapa Sih Harus Balikkan Sama Mantan" selain "No way" untuk balikkan, hahahahaaa.....Piiisss..........
Last but not least boleh donk titip pesen nih buat blogger yang belum punya pasangan ataupun yang lagi merajut kasih, mantapkan dulu hati. Benarkah ini yang anda inginkan? Inikah keputusan terakhir anda? Inikah calonku untuk di dunia dan di akhirat.
Pontingan untuk ikut serta dalam Blogger Bicara Cinta di Blogdetik tgl. 20 Februari 2012.
saat ini saya masih mencari belahan hidup saya, gak mau cepet2 nikah tapi kerja dulu dan memantapkan hati
BalasHapustips yang oke dai bunda yati
BalasHapusSebelum melangkah lebih jauh, mantabskan pilihan dan bukan berarti pilah-pilih kan bunda
BalasHapussekali melangkah tanamkan dalam hati untuk selamanya
pertama dan terakhir
mohon doanya bunda semoga keluarga kami bertahan selamanya
ibunya kelor bilang, "ti, kalo waktu masih pacaran aja hatinya sudah gampang kepincut sama cewek yg lebih cantik, apalagi nanti kalo menikah. mending dilepas aja yaa nak, yang ikhlas. mumpung belum dibawa ke jenjang yang lebih serius."
BalasHapusjadi kalo mantan ngajak balikan lagi, kelor bilang, "maaf, aku sudah berjodoh dengan pria yang bisa menjaga hatinya hanya untuk satu nama"
hehehehhe ..